Ekspresi Jabatan

Di satu kota online, gua menemukan satu hal yang cukup menjengkelkan. Cukup, untuk membuat secangkir kopi biasa saja menjadi hangat kembali. Saat itu gua mencoba untuk memblenderi diri di kota dengan semiliar ekspresi postingan yang menurut mereka ironis/orang lain laik untuk tahu. Atau sesuatu yang sengaja disembunyikan, seperti meningkatkan jumlah pengikut juga bentuk mempopulerkan diri dengan beragam cara. Entah fisik maupun psikis. Melihat keberagaman ini, membuat gua ingin menyajikan kue tart di atas kolam renang. 


Ribet


Beberapa hal membuat gua menyadari bahwa 'psikopat', memang bukan bicara soal bunuh-membunuh secara fisik saja. Betul akan terlihat aneh jika film-film yang kita tonton diselipi kosakata disertai artinya, dengan maksud mengedukasi betul masyarakat inti yang ingin disampaikan dari film tersebut. Tidak jauh, aktualisasi diri. Hal yang sangat melekat pada diri manusia dan merupakan kebutuhan tertinggi sesuai piramida Maslow. Ditambah kebutuhan yang tidak akan pernah tercukupi disamping pemenuh kebutuhan yang tak mencukupi. Memungkinkan individu melakukan cara-cara yang bahkan disadari mampu meretakkan seseorang.


Proses blender yang panjang, mendapati diri gua bersama konklusi yang cukup menyakitkan. Kesan awal yang terlihat indah, hancur dengan segala pukulan berbagai arah setelah beberapa lama membentuk aksi. Bahkan dengan pondasi pergaulan seperti tidak bisa dikatakan pondasi. Identitas palsu yang juga dibentuk secara sadar sehingga mampu membohongi satu kota terus dan menerus. Dengan alasan menghindarkan diri dari bahaya, namun terasas pada rangkaian iblis nafsu. Kata 'permainan' mau dan mampu dikreasikan, bahkan sampai rela mengacak-acak diri hingga tak tahu lagi urutan yang benar. Berusaha terlihat 'memukau' di kota agar kebutuhan aktualisasi terealisasi.


Kekerasan psikis mudah merajalela tak terkecuali bagi mereka yang telah memiliki 'jabatan'. Seperti lingkaran, tidak pernah habis biarpun digigit zaman. Juga tak memandang jumlah penduduk satu dan yang lain. Melihat celah melapisinya dengan kans, lalu suatu hari kembali dengan beragam alasan klasik dengan maksud memenuhi piramida aktualisasi. Seperti film horror yang telah ditonton beberapa waktu lalu; menghidupi diri di kota kelahiran seperti tidak pernah 'melakukan' apa-apa di kota kejadian. Legalitas satu setengah kepribadian, di sisi kesempatan ekspresi posisi.



N.D.H.

P.s: Hati-hati, dan persiapkan diri betul sebelum memasuki kota tertentu.
Amani diri dan semestamu.
Degup hasrat, di mana jantungku mengalami transplantasi dengan hasrat.
Hasrat untuk menyelesaikan skripsiku. Penelitian dengan kuesioner dan masalah sampel yang belum juga mantap.
Hasrat untuk berhenti berlari. Berhenti menggunakan mimikri agar menjadi yang orang lain inginkan.
Berhenti untuk mencari pergaulan yang original. Yang kualitasnya tidak main-main.


Hasrat, di mana segalanya dapat berlabuh.
Begitu juga kelelahan saya. Kebosanan saya.
Dampak yang tiba di ujung yang entah apa namanya.
Yang entah sudah berapa lama menyiapkan dirinya.
Untuk saya.


Hasrat tidak pernah mengambil jam istirahat.
Dentingannya memecahkan gendang telinga,
posenya menyakitkan pandangan.
Berperan di atas panggung hasrat,
bahkan di saat penonton belum tiba.
Seperti penulis yang bersikeras memikirkan jalur cerita selanjutnya.
Atau tugas guru membuat satu anak mengerti segala materi pelajaran.


Segala sifat itu..
benar-benar berhasil.
Piala hasrat diletakkan di depan rumah
agar semua orang dapat melihat.


Hasrat, dengan atau tanpa kasta.
Racun ampuh.
Entah untuk menyembuhkan atau memperparah.
Sungguh potongan-potongan yang ajaib.
Namun berantakan.



Nanda Dega H.








Calon Masak



Tahu bakal ada program magang tiba-tiba. Gua langsung deg-degan. Khawatir. Bingung. "Ugh.. kenapa harus ada beginian sih?!" Gua yang setelah itu berunding dengan diri gua sendiri, makin dibuat pusing. Gua yang ga tau apa-apa soal magang ditambah ngebahas hal itu dengan diri gua sendiri. Semua panik. Sampai-sampai bulu kuduk guapun ikut panik.


Sebagai seseorang yang memiliki sisi introvert, mendengar sesuatu yang tidak mengikutsertakan gua dalam perundingan akan sangat menyengat hati dan pikiran gua. Ngomel bentar, habis itu diberi waktu untuk berfikir. Namun sisi ekstrovert langsung pergi ke tengah panggung dan bilang ke semua saraf tubuh gua untuk jangan takut; "Berbaur itu seindah melukis kuda poni di atas cupcake dan sejenisnya." Mereka masing-masing memiliki jumlah trofi yang sama sampai sekarang. Hanya unggul di situasi tertentu, tidak berlaku selamanya secara kontinuitas.


Menyambung soal magang, akhirnya gua berbaur dengan rekan-rekan sekelas yang juga tengah dibuat pusing olehnya. Diskusi-diskusi pusing itu akhirnya membawa gua pada sesuatu yang namanya referensi. Gua sedikitnya tahu apa yang harus gua lakukan. Singkat cerita sampai pada pembuatan surat izin magang. Semuanya repot. Tak apa selama bukan gua doang yang repot. Kau tahu, repot yang sebenarnya bisa diselesaikan bersama. Repot sebagai tanggung jawab pribadi lain nilai. Empat buah amplop dengan masing-masing perusahaan tujuan yang berbeda, dengan maksud jaga-jaga sekaligus menghilangkan kata repot dalam 'papan tulis harian'.


Hingga suatu saat, semua surat itu tertumpuk dalam lemari gua di bagian paling atas sebelah kanan. Gua selipkan di antara buku bergambar kosong dan kertas-kertas lainnya. Salah satu rekan gua, Dessy Luckyana melakukan tindak ajak berawal dari kantor pemerintah di Jakarta Selatan. Sampailah kami di deretan gedung kementerian di Jakarta Pusat kemudian. Mencari satu persatu lowongan magang bagi pelajar, seperti penjaja coklat yang hilang harapan karena coklat yang dijajakan belum juga habis. Lalu sampailah di suatu kementerian, dengan hasil 1-0 bagi gua dan Dessy.


Hari-hari setelah petualangan di kementerian terakhir itu, gua benar-benar dibuat gundah. Dari jarak, transportasi, sampai biaya yang akan dikeluarkan jika gua melakukan magang di sana. Biarpun sampai di titik di mana surat izin untuk itu berhasil, namun masih ada sekelebat ketakutan dibenak. "Apa harus gua menghabiskan uang orang tua sebesar itu?" Bertarung dengan diri sendiri sangat tidak mengenakkan, biarpun kau suatu waktu memiliki kendali penuh untuk berkuasa. Namun akan lain jika sebelumnya kau memiliki kriteria-kriteria hidup yang telah kau catat pada tiap saraf dalam tubuhmu. Sangat melelahkan, lebih dari seorang pelari maraton di Hari Minggu. Lalu kudicerahkan oleh Yang Kuasa akan alternatif perjalanan dan orang yang ahli di dekat gua. Gua hitung, menghitung, dan memperhitungkan. Sampai akhirnya gua bermuara dengan mantaptidak begitu mantapdan menguatkan konsistensi gua untuk melakukan magang di kementerian tersebut.


Perekrutan tiba-tiba oleh karyawan yang bersangkutan kepada gua sampai (mungkin) kesalahpahaman-kesalahpahaman yang sempat terjadi disekeliling gua. Namun gua sudah ditempatkan di sanayang mana semua tidak ada yang terjadi secara kebetulan, membuat gua untuk terus bertahan dengan kondisi lingkungan tanpa mempertahankan gua. Sesaat, pada akhirnya. Matahari bangkit tiap pagi. Begitu seharusnya. Bangkit tanpa khawatir cercaan, dan sebagainya. Karena sudah ditempatkan di deskjob seperti itu. Sampai hari ini.


Minggu tiap minggu gugur. Dua bulan sebagai waktu yang dianggap valid karena data-data mendukung yang terkumpul. Bahkan gua harus menyaksikan pertukaran direktur yang membuat orang-orang pertama menjadi terakhir bahkan hampir tidak kelihatan. Begitu juga tugas yang diberikan. Sisi ekstrovert gua semakin menjadi. Dia membutuhkan sesuatu yang lebih, terus biarpun tidak ada yang memberikan. Layaknya persembahan, namun dalam bentuk tugas.


Lalu tiba hari di mana gua harus berpapasan secara terakhir dengan seluruh karyawan di ruangan tersebut. Tempat gua sempat pusing dengan atau tanpanya tugas, atau orang-orang dewasa yang terpaksa bergaul dengan remaja-remaja yang dihauskan akan laporan magang dan susunan skripsi. Kembali deg-degan, namun ini lebih dari pertama gua tahu hadirnya program magang di program studi yang gua geluti. Degup khawatir. Khawatir ga bisa lihat canda versi orang-orang seperti mereka. Apalagi the way some laugh. Saat tiba pada target pertama, gua hampir dibuat cengeng karena intonasinya yang terdengar menyedihkan. Seperti bumbu perpisahan benar-benar kental dalam diri gua. Betul menyakitkan. Hal-hal eksentrik yang gua suka harus tertahan di sana. Ga bisa gua bawa pulang secara objek.


Yang kemudian kembali kepada mereka yang awal-awal. Gua harus menuju lantai 3 dan ketika memasuki ruangan, semua ada di sana. Benar-benar diberikan kesempatan untuk berpamitan. Gua sangat bingung ketika mengatakan bahwa itu adalah hari terakhir magang. Yang bisa gua lakukan adalah menunduk dan berbicara. Si ekstrovert entah kenapa tidak melakukan tugasnya secara penuh. Namun bagaimana lagi, itu adalah tanggung jawab dan kontrak yang harus disepakati, baik di awal maupun di akhir hari.


Tidak ada alasan pasti lagi jika gua ingin ke sana, selain menuntut terjadinya lembar sertifikat. Lebih dulu magang, lebih dulu selesai magang. Memiliki waktu kosong dalam hitungan bulan sampai hari Ujian Akhir Semester hingga memasuki semester di mana huruf-huruf lebih penting ketimbang lembar-lembar kertas yang terbuang, yang sifatnya hanya memuaskan kemudahan atau alasan-alasan lainnya.


Selesai, tapi hanya sampai di situ. Masih banyak buku kosong yang harus diisi, sebagai riwayat yang akan ditabur bagi lahan-lahan muda di era-era asing yang ada di depan. Iya, di depan sana. Kau akan dibuat sadar nantinya.





Nanda Dega,
Ilmu Komunikasi,
di kolom yang hampir akhir.


Pusa

Dia s'lama ini memerhatikan saya.
Iya. Mata dan kelopaknya selalu bersikeras menangkap memori tentang saya.
Dia tahu saya tengah menghadapi pusaran hasrat.
Dan saya terburu-buru ingin menggapainya.


Mereka masih belum yakin. Beberapa yakin di dalam ketidakyakinan mereka sendiri.
Saya sudah berusaha diam, tapi mereka terus menggoda saya.
Atau saatnya saya pancing karena merasa bosan.
Cara yang salah menuju tujuan yang (dirasa) benar.


Saya semakin lelah karena latihan yang belum juga mencapai kolom akhir.
Padahal sudah melakukannya di luar lingkaran pelindung.
Saya sadar cara yang salah, tapi bodohnya terus mencoba.
Untuk mendapat centang di satu tugas di kategori sosial.
Kar'na sempat menyandang kekalahan di zaman dulu.


Sudah terlalu banyak berfikir.
Makanya jadi pandai mengira.
Mendapat persepsi buruk,
mencari persepsi yang baik.
Untuk bertahan hidup.


Hingga akhirnya hasrat saya dipuaskan secara kreatif.
Di rute yang tidak saya sadari. Juga waktu.
Aku selalu dibela. Walaupun sering memakai 'teori sejak lahir' itu.
Dan soal ini s'lalu terjadi bahkan pada kita semua.


Kenapa selalu mencari, padahal sudah di depan hidung?


Termenung sebentar.
Lalu berdoa agar tidak terlalu masuk,
ke dalam kategori.
 

N. Dega―


waras tak berakses


Belum tiba di kelas, dia sudah ditindas.
Belum ada di kantor, dia sudah dicaci maki.
Hampir semua menganggapnya gampang.
Dan semua memiliki urusannya masing-masing.


Hilang di setiap menit.
Siapa yang mampu membatasi kamu?
Kamu kepenuhan aberasi.
Orang-orang sulit mau dan mampu memahamimu.


Aku tidak sedang membangun puisi.
Hanya penggalan-penggalan kalimat yang ingin keluar.
Kamupun begitu. Ingin keluar namun kamu selalu terjebak di sini.
Alasan keamanan, 50 berbanding 50.


Tatapan dan sikap yang sudah mereka janjikan sebelum menginjak keset rumah.
Sebagai hadiah yang kamupun ga akan paham. Dan mereka tidak begitu peduli.
Karena kerasukan sibuk. Kerasukan keluarga.
Kerasukan waktu. Kerasukan kesehatan.
Semuanya menjadi semakin tidak waras.


Kamu bukan hasil transfer sihir.
Hanya kesalahan yang tercipta disekitar.
Sosok yang dibentuk untuk membentuk.
Penyesalan meronta, kalbu yang tak bisa istirahat.


N. Dega


Jauh-jauh kau malas! Sialan, sampai menumpuk. Layak untuk disebut sebagai gunung.
Jika ini dunia bisnis, hancurlah sampai potongan terakhir.
Rajungan kotor! Ditambah kau yang mencemari benakku. Tenggelamlah ke yang terdalam dari yang terdalam.
Jauhi radius pandangku!

B'rengsek!

racun pergaulan

Aku keracunan rindu.
Di waktuku sendiri.
Bagi kamu, bagi yang terpilih.
Takaran yang tak tersebut.
Cara menggunakan yang tak tercetak.
Tapi ada satu aksi ini.
Seperti penghapus yang bisa bekerja sendiri.
Di malam hari. Ketika para tuan tidak di rumah.
Atau saat mereka sedang tidur.
Keapatisanku yang berhasil dipatahkan.
Aberasi yang terkontaminasi.

Sempat berfikir kondisi masa depan tanpa kalian.
Lalu sekonyong-konyong orang asing memperkenalkan diri
lewat papan tulis yang kudesain sendiri.
Ingin masuk dalam pergaulan.
Ingin masuk dalam pikiran.
Pikiran yang telah lama direstriksi.
Sayang..

Lomba maraton dimulai.
Tapi aku pura-pura tidak memulai.
Bingung.
Lalu jadi gagu dan tidak profesional.
Tidak bisa di-searching
seperti kunci lisensi gratis di situs-situs online.

Maaf sempat telat.
Aku benci telat.
Tapi aku juga benci testimoni palsu.
Aku..
Ughh..



N. Dega―


kerasukan


Melakukan langkah dari rumah dengan sepatu gaya tradisional. Gua biarin diri gua yang lain memperhitungkan langkah demi langkah sebentar. Sebentar yang lain menatap orang-orang yang melakukan tatapan pertama ke gua. Lumayan banyak dapat atensi dari orang-orang yang entah dari mana saja tempat kembang sejak lahirnya. Apa ada pertanyaan dari mereka gimana 'bagian dalamnya'? Gak! Lagipun mereka bukan penerka ulung.

Lalu menatap netizen yang dengan megahnya 'menumpahkan kuah lengket' di kolom komentar. Kuah yang menurut mereka wangi kondisinya. Berkualitas tinggi. Kar'na malasnya mengeksplorasi lebih dalam, gua langsung kasih tanda 'bahaya' di pinggir laut. Atau tatkala leaving group di media sosial. Ada saja keberhasilan diri yang lain saat berbisik tentang ini dan tentang itu. Sayang, mereka tidak menerima piagam atau semacamnya.

Ada lagi ketika kereta berhenti di stasiun s'lanjutnya. Apalagi kalau nampak banyak calon penumpang lewat kaca kereta. Akan atau sudah berakting tidur agar tempat duduk tidak diinvasi pendatang baru. Lelah, malas. Pernah dengar testimoni dari salah satu penumpang. Lagi enak duduk di samping temannya, tiba-tiba tempat duduknya diinvasi wanita yang ketebalan tubuhnya melebihi tebal tembok pembatas wilayah. Egoisme dan gila hormat selalu b'rani merasuki atma orang-orang. Juga ketakutan kar'na jenis kelamin dan gerbong yang 'didominasi'. Masih saja memerhatikan hal-hal seperti itu. Gampang s'kali manusia kena rasuk.

Apalagi ketika seseorang mendaki gunung hingga berada di puncaknya. Bau yang ia cium merasuki hati dan pikirannya. Mulai membentuk ruang hingga dunia dengan megahnya. Tujuan semula dibelok ke arah dia berpijak kini. Yang lainnya penerus. Entah penerus budaya atau bangsa.

Lalu saat dengar lagu-lagu favorit. Kepala, bahu, tangan, sampai bokong mengikuti semua arah mata angin. Saking kuatnya daya rasuk musik itu, hingga membuat kita menciptakan akal atau pikiran-pikiran yang di luar kemampuan.

Masing-masing kena rasuk. Di ruang besar ini punya banyak pilihan yang kadang hadir di luar logika dan ga menghasilkan apa-apa ke depannya bagi otak orang lain. Banyak yang ikut campur tapi ga merubah ke hal-hal yang benar. Karena benar hanya menurut versi otaknya. Otak yang tumbuh-kembangnya didominasi entah di lingkungan mana. Nasihat juga hampir punah tujuan aslinya.

Manusia memang makhluk yang unik. Juga hebat.
Bisa kena rasuk, bisa juga merasuki.


Nanda Dega


DregNansa 4th Anniversary


Nanda Dega, sebagai bentuk perayaan ulang tahun DregNansa yang ke-4 mengeluarkan mini book yang di dalamnya berisi 10 pos di mana sebelumnya sempat dipublikasikan di website DregNansa. Mengambil tanggal 17/10/2017 pukul 17:10 sebagai waktu perilisan mini book ini.

_________________________________________________________________________















_________________________________________________________________________


Nanda Dega,
Author


bulir kalimat

aku masih terpaku di lingkaran kata yang kamu keluarkan kemarin.
berulang-ulang aku baca hingga nyaris hilang kesadaranku—
diriku yang asli, yang tidak pernah bersua dengan kamu.
aku sadar telah memerankan tokoh bodoh di sesi ini.
tapi masih saja aku selidiki.
selidiki kamu, makhluk alami yang berlagak buta dan tuli untukku.


aku sama sekali tidak menemukan bulir-bulir pada kalimatmu itu.
tidak membentuk kode.
tidak membentuk sandi.
tidak membentuk sisi pertolongan.


apa benar kamu membuangku,
sama seperti pekerja pabrik yang rutin membuang sisa olahan ke alam tak berdosa?
s'kali lagi aku kehilangan kesadaran—
akibat yang harus aku tanggung
kar'na tidak mendengarkan diri yang lain
yang lebih menguasai logika dan mampu menghafal lisensi perusahaan.
.
.
.
bodoh
.
.
.
aku tidak terima, tapi kamu tetap melangkah ke masa depan.


"apa tidak bisa aku mengganti peranku?
apa saja, asal jangan jadi orang bodoh yang masih memikirkan peninggalan.
apa saja.."


aku harap elegiku untuk yang satu ini
cepat berakhir.


nanda dega

 

sedang UPGRADE


Hai!
Aku jalan lagi di dunia nyata.
Dunia fantasiku sedang mengalami pembaharuan. Penambahan konten dan menu juga.
Masih belum tau butuh berapa persen lagi untuk mencapai selesai.


Tulisan masih berlanjut.
Tidak sedang mengalami TSUNAMI IMAJINASI.
Masih asri, se-asri pinggir pantai yang tenang. Namun terasa nol biar pemandangan di sana dan di sini.


Keluaran terbaru, nanti akan aku makan semua!
Sebelum atau sesudah merilis album baru.
Cepat atau lambat adakan konser DregNansa lagi.
Dengan atau tanpa kursi tambahan di samping kursiku.



tertanda
bocah atmosfer lain, nanda dega.


 

kansel

Saya raih ransel s'telah mengunyah beberapa pastel di dapur.
Melelahkan juga ya, mengunyah itu.
Apalagi mengunyah pastel liat.
Rahangku pegal beberapa saat.
Tapi sudah terlambat membatalkannya.
Limit akhirnya saya sejukkan dengan segelas penuh susu sejuk.
Si virus bernama bebas menggerogoti entri ini.
Tapi saya biarkan ini diumumkan. Dengan megahnya.

Saya terus membatalkan entri-entri yang lalu.
Batal, batal, dan batal.
Laci maya hampir penuh. Tapi dengan mahanya saya biarkan sampai menggembung.
Lebih kembung dari 5 ekor ikan kembung.

Yang riil pun dengan lemahnya saya batalkan.
Ugh! Ada apa dengan lu, Deg?!
Apa hal-hal psikologis itu yang terus membungkam kamu?
Terus saja kau diam, sampai kau disatutempatkan dengan fosil dinosaurus!
Terus saja kamu batalkan, sampai kau menggaruk-garuk kasar kepalamu nanti.


Hahh..
Tapi biar bagaimanapun, satu dari sekian hal.
Jangan batalkan diri kamu untuk menekan aktif tombol arif di kepalamu.



Nanda Dega H.
yang akhir-akhir ini mencerna puas kata kansel didua keadaan.

 






Nanda Dega H.

back to my hometowns


Hampir saja saya bersujud tatkala tiba di kampung halaman.
hampir saja..
Saya biarkan ego melangkah di jalan setapak dulu.
Sebelum akhirnya menyebrang ke sisi yang lain. Sisi satunya.



Kadang, sembari membaca buku yang kucel.
Sebelum akhirnya menyebrang lagi.
'tuk lihat kamu. Kalian juga.



Tak sabar lagi..
Masih. Masih ala itu.
Masih cari.
Masih..
Di tempat hingga saya tiada.
Di tempat kamu, kamu, kamu, kamu, dan kamu berada.
Graha yang saya bangun sendiri.
Di lokasi yang tidak bisa orang lain dapat.
Di kampung halaman.
Tepatnya, di kampung-kampung halaman.
Yang lain.



Nanda Dega H.
yang sedang, akan, dan terus mengunjungi kampung-kampung halaman
.
.
Lain..
.
.


Seperti 86%



Seperti.. eh, bukan. Memang ini ada di tiga hari yang lalu. Hari setelah rencana disusun oleh 4 orang termasuk saya. Berkeinginan keras untuk pergi kar’na bekal-bekal yang udah tersedia juga jauhh sebelumnya. Agak berat awalnya, tapi untung sang “pemberani” merasuki saya walaupun tidak sampai 100 bahkan 90 persen. “Ga peduli,” kata sisi yang lain.

Sebelumnya menyapu lantai rumah supaya berguna sebelum pergi jauh, tanpa dapur kar’na sedang dipakai. S’telah itu bergegas bersihkan raga dan menyiapkan segala kebutuhan untuk di sana termasuk bekal-bekal yang jauh-jauh hari sebelumnya. Sudah, dan b’rangkat.


Dengan 2 jenis angkutan umum di mana satu jenis pertama terdiri dari 3 buah angkutan umum yang berbeda jurusan. Sedari akhir dari yang ketiga, saya berubah menjadi seorang turis. Bertanya sana bertanya sini. Untung tidak sampai memasukkan koin ke dalam mesin supaya pertanyaan-pertanyaan saya terjawab.

Di stasiun itu sang “pemberani” terkikis kar’na cara menjawab mereka yang buat saya kurang meyakinkan. Tapi untungnya tidak terkikis lebih dari 50 persen. Jika iya, saya harus menunggu transportasi berwagon berikutnya.

Melelahkan, mengantuk. Tapi untungnya di dalam sana suasananya sejuk. Gak cuma angkot, di wagon pun saya juga bisa mengantuk. Benar-benar susah mendorong kantuk keluar bahkan sampai 100 persen. Sang “pemberani” perlahan terkikis di tempat-tempat tertentu, dan tetap aja akhirnya saya gak peduli. “Kan bisa ambil wagon yang diseberang,” dalam benak biarpun sebenarnya agak malas kalo benar saya salah jurusan.


Tatkala tiba, saya mengenal tempat itu dan senang. Kesenangan itu hampir menguasai saya 100 persen. Dari entah wagon keberapa, saya jalan mengikuti penumpang yang lain ke depan hingga akhirnya saya putuskan untuk pilih jalan sendiri―di kota lain yang amat berjarak itu.


Langit s’pertinya sedang menenun payung berwarna hitam lagi. “S’pertinya akan turun hujan di sini,” pikir saya. Bagus juga kar’na saya pun takkan lama di sana.

Ya, terlambat! Terlalu siang saya pergi dan terlalu lama transportasi berwagon itu berjalan. Dia bahkan sempat berhenti kar’na sesuatu, membuat saya kehilangan hingga berpuluh-puluh persen liburan. Yaa, inilah akibatnya tidak memperhitungkan keadaan hingga 99 persen. Tapi biar bagaimanapun, saya tetap harus memanfaatkan kesempatan itu walaupun hanya belasan persen.


Menggunakan tangga penyebrangan, menyebrang kecil, menelusuri jalan setapak dengan toko-toko kecil di pinggirnya, istirahat sebentar dengan memesan minuman rasa moka, setelah itu menelusuri jalan setapak lagi hingga tidak peduli sampai mana saya akan terdampar. Lagipula jalannya mudah diingat. Di akhir perjalanan setapak saya, saya pesan minuman bersoda dengan es krim vanili di atasnya ditemani kentang goreng porsi sedang. Menikmati kartun sebentar, lalu pergi meninggalkan tempat makan bergaya Barat itu yang sebelumnya saya teliti lagi barang-barang bawaan saya. Ingin mencapai stasiun, saya kembali menggunakan jalan setapak―jalan yang pernah dilalui. Saat sampai di toko kecil itu, saya pesan Takoyaki untuk saya bawa pulang ditemani obrolan kecil antara saya dengan si penjual.


Sangat disayangkan hanya menggunakan belasan persen waktu di sana. Maka dari itu saya beranikan diri berjalan di jalan setapak terusan. Baru satuan persen perjalanan, langit ternyata sudah menyelesaikan payung tenunannya. “Udah gerimis! Balik ah.” Hingga akhirnya saya sampai di stasiun.


“Masih kurang.”
“Ke mana lagi ya? Tapi hujan.”


Belum besar persennya, saya tunggu di sana sembari duduk dan dengar musik. Dengan alasan Takoyaki akan dingin saat sampai di rumah, saya makan akhirnya. Padahal hanya 5, tapi saya malah kenyang. Aneh!


S’belum naik kereta, saya manfaatkan kamar mandi terlebih dahulu mengingat perjalanan itu memakan waktu hingga berpuluh-puluh persen. Masih gerimis, tapi untungnya basah hanya 10 persen. Hingga akhirnya saya tiba, duduk, dan menikmati kembali perjalanan yang amat berjarak.


Hal aneh lainnya adalah bekal-bekal yang saya bawa tidak saya makan satupun, kecuali 3 buah permen karet rasa tutti fruti.



Dua jam lebih saya rasakan perjalanan dari duduk hingga berdiri. Sesampainya saya di stasiun akhir, di saat itu langit memakai jubah hitam dengan pola bintangnya. Kembali saya gunakan 3 angkutan umum yang berbeda jurusan menuju tempat tinggal. Sudah s’kitar 43 persen saya jalankan dan sudah 2 kali saya aplikasikan. Begitu besarnya sehingga saya lebih berfokus pada sesi yang satu itu. S’kitar 73 persen penyesalan menghantui saya, namun lain kesempatan akan saya awali di pagi hari agar bisa membayar utang-utang yang saya buat di perjalanan sendiri yang lalu itu.



Nanda Dega H.


yang akan membayar utang-utang perjalanannya
suatu hari nanti.



P.S.: Potret waktu itu tidak bisa hadir kar'na perjalanan yang di kota itu cuma s'kitar 14 persen.



nanda + dega = dregnansa (II)


....Seperti biasanya, menonton memori.
Sebentar, akan saya atur dulu pemutaran filmnya!


3......... 2......... 1........


Sekitar 5 tahun yang lalu—tahun di mana gua duduk di bangku SMP kelas 8. Bukan, bukan numpang duduk! Dan gua pikir ini terjadi untuk yang kedua kalinya.
Salah seorang teman guasebut saja namanya bambu, dengan lantangnya ke gua di tangga SMP: "Dasar, rambut Obama muka Mr. Bean!"
Dan gua hanya membalasnya dengan tertawa, bukan SMS teror atau memanggil semua orang, membentuknya menjadi geng hingga menindas si bambu. Kar'na kata-katanya, di rumah gua nyermin dan memahami lebih dalam akan muka gua yang katanya mirip Mr. Bean.
Untuk rambut, ya...
Gua selalu menganggap rambut gua mirip roti―mengembang. Entah kenapa saat kering, gua ngerasa rambut gua seperti melewati proses pemanggangan. Padahal, shampo yang gua pake ga ada soda kuenya.
Tapi gua yakin kalau itu hanya terjadi saat rambut gua udah panjang. *menghindar dari kenyataan*

Ngomong-ngomong soal roti, gua harus menggepek atau memukul-mukul si roti sampe ga ada rongga kalau gua mau roti itu habis. Ya, salah satu jalan agar gua gak buang-buang rezeki. Tapi gak setiap roti gua siksa kek gitu, hanya roti yang terbeli dan bukan semua yang ada di pasar.


Dulu... ―kembali membuka arsip
Gua suka tulis mimpi-mimpi gua ke dalam buku. Bukan masa depan dan harapan, dan ga semua "hasil kerja keras otak gua saat gua ga sadar" itu gua tuangkan ke dalam buku tulis gratis yang gua dapat di masa Sekolah Dasar. Hanya mimpi-mimpi unik dan perjalanan-perjalanan nyata yang haru.
Gua selalu dituntut oleh "diri yang lain" untuk menuliskan semua itu lengkap dan sistematis. Kalo ada bagian yang terlupa, mengarangpun jadi. Kalo kebanyakan, tulisan jelek juga jadi. Bahkan gua sempatkan diri untuk menggambar di buku itu entah mimpi atau riil.



Buku-buku yang udah gua corat-coret dengan noda khasberbagai ukuran termasuk ukuran saku. Masih banyak yang nihil dan itu cuma beberapa dari keseluruhan buku. Kisah & lirik lagu, sadar dan tanpa sadar.



Terkadang juga gua sempatkan diri menyertakan Kanji Jepang ke dalam buku yang sudah melewati dua dunia itu. Mengingat akan kencintaan kar'na zaman dahulu, usahakan diri menyimpan 2000 Kanji ke dalam hidup.



Entah sudah berapa buku yang kena "noda khas" gua.
Di buku terakhir, "noda khas" ga sampai di akhir lembar. Gua sempat berfikir untuk memberi "noda" ke dalam Ms. Word. Namun, fikiran gua berakhir di blog. Ga cuma blog dan Word, tulisan gua juga berakhir di...


.........................
"Yahh, bagian di rol film ini tidak dapat terbaca! Bagaimana ini?"
Berfikir sejenak hingga akhirnya ia memutuskan..
"Baiklah, kita lanjutkan pemutaran filmnya dengan memutar film yang satu lagi."


3......... 2......... 1........


Film pertama yang gua tonton saat SD adalah film ber-genre horor. Ya, anak SD udah b'rani duduk di bangku bioskop, horor pula. Ditemani 3 orang teman, hingga di akhir perjalanan gua bawa oleh-oleh buku Kereta Hantu Manggarai. Masih ada? Ga. Udah kena api bertahun-tahun lalu pas bakar sampah-sampah yang lain.


Sekali lagi, karena gua buat gambar-gambar di atas, gua berniat 'tuk buat single untuk itu―Arsip Memori. Bahkan dulu hingga sekarang gua sempat berfikir 'tuk buat single untuk ini―mengenai saya.

Lalu, kenapa gua publikasikan macam ni? Itu semua demi kelancaran berbahasa―pemasukan akan informasi-informasi baru dan lama. Ya, ada perkara-perkara yang harus gua pelajari lagi disamping menunjukkan karya dengan bentuk tertentu.



Dann.. selesai sudah!
Yap, sekali lagi kita ada di penghujung film.
Masih dengan gua yang sedikit terbuka. Entahlah sampai kapan.

Tapi s'benarnya, ini kar'na gua yang kehabisan kata-kata. Terlebih waktu memaksa gua untuk berlari ke tempat lain. Hihi.. :D

(Penonton pun melongo, terkejut kar'na isi dari film kedua yang begitu sedikit. Biarpun begitu, mereka tetap lanjutkan memakan berondong jagung dan meminum minuman soda yang masih banyak—menghabiskan semua masih di tempat duduknya masing-masing.)



..............................
(Ia mengambil potongan kertas yang telah ia isikan dengan kelanjutan dari kutipan pada akhir film yang pertama dan mulai membacanya.)




"Mengelilingi pohon dan memanfaatkan wilayah untuk bersenang-senang. Kunang-kunang itu merasa hal itu tidak buruk. Sekali lagi, hidupnya kena cat warna―warna aneh yang lain."



~ S E L E S A I ~



"Eit, benarkah sudah selesai?"



Nanda .D. Heraprinov



ke-GR-an

"Bocah ini..."


Entah kenapa mereka ke gua melihat bagaikan barang antik. Apa kar'na gua-nya yang amat tampan dan menggemaskan?
Gua tatap mereka hingga mereka memalingkan pandangan. Apa kar'na mereka takut kalau gua bakal tahu bahwa mereka suka dengan gua?

Apalagi tadi siang, sehabis ikut serta merayakan ulang tahun seseorang setelah menonton film di sinema. Gua dan yang lain pulang dengan kendaraan umum, angkot. Perjalanan yang memakan 3 jenis angkot ini untuk gua sampai di rumah. Setelah gua dan teman gua naik angkot yang ketiga, abang angkotsebut saja coklat lumerberhenti di depan angkot yang kami naiki.

Dia membuka pintu mobil dan mulai menghampiri angkot ketiga ini. "Jangan-jangan nih coklat lumer mau kasih pelukan sebagai tanda terima kasih kar'na udah naik angkot yang dia kendarai. Atau kar'na gua yang baru gunting rambut, melihat gua sebagai sosok Leonardo DiCaprio pas muda dan ingin minta tanda tangan dan foto selfie."



Eh, ternyata uangnya KURANG. Ya ampun..



Yasudahhlahh..



Ga hanya itu, orang-orang yang sama masih aja pandang gua. Yahh.. mungkin itu kar'na pakaian gua yang amat stylish. Atau mereka amat senang kar'na bisa lihat Nanda Dega yang punya blog DregNansa s'cara nyata. Atau mungkin yang lain. Idk.

GR ama PD beda tipis lah yaa..
atau emang gua-nya aja yang BERLEBIHAN?!


nm..


Semoga aja suatu saat, abang angkot yang menghampiri gua bukan untuk nagih uang, tapi dia malah bilang: "Udah terbit belum, bukunya?" atau "Buku-buku yang di rumah udah kebagian semua belum?" atau "Mau dibeliin anjing gak?" atau mungkin dibeliin coklatyang gak lumerbuat snacking pas baca buku di rumah. Atau ditraktir kar'na naik angkot dia, atau yang lain.


Amiinnn...



PS: Ya, gunting rambut. Gua sendiri yang gunting rambut gua. "Napa, Dega?" Capek juga minta potongin rambut tapi gak sesuai harapan, padahal penjelasan yang gua kasih gak pake rumus logaritma, atau trigonometri. Daripada kejadian lagi, akhirnya tadi pagi gua gunting nih rambut yang bentuknya dah kayak helm. Potong dikit-dikit lama-lama makin dalem :/ . Tapi hasilnya gak begitu buat gua kecewa, gak sekecewa yang dulu. AZEK!

Yahh, gitu lah..


Mungkin sehabis ini gua bakal nonton film yang udah pernah ditonton―lagi. Atau hanya mendengar musik klasik. Atau kembali berasmara dengan buku atau langit. Atau yang lain.


Sedikit membosankan, terlebih di liburan yang panjang.




Nanda .D. H.


nokturnal



Mari, lanjutkan konversasi yang kemarin.
Malam lalu.
Membicarakan kami di sekolah, teman-teman yang membosankan, hingga aktivitas-aktivitas kami yang lebih membosankan.
Tapi anehnya, kami tetap lanjutkan itu.


Mari. Aku sudah tidak sabar melanjutkan film ini.
Berpikir cerita horor atau dongeng suatu saat.
Mari, kuasai malam ini dengan hal-hal di masa kecil.
Habiskan hingga pagi buta.


S'perti biasa, kau kopi dan aku susu coklat.
Hangat. Kami lawan dinginnya malam s'kali lagi.
Sembari memakai perisai dan pedang-pedangan.


Kami keluar dan berteriak pada lampu malam.
Sekali lagi..
Sekali lagi aku ingin menonton film komedi.
Aku rindu tertawa di hari sunyi.
Biar kami tertawa terbahak-bahak s'kali lagi.


Maaf tetangga, kami egois.
Hanya ingin merajut memori untuk masa depan.
Agar saat sendiri, kami boleh tersenyum dan tertawa
kar'na telah membongkar lemari memori yang tidak nihil.


N.D.H


mati lampu



Mati lampu..
Oh! Ini terjadi 3 hari yang lalu, di mana gua dan penduduk di sini dikejutkan dengan datangnya masa kegelapan. Ya, benar! Ini terbukti dengan matinya semua lampu yang ada di sini. Sialnya ini terjadi ketika gua belum mandi.


Gua suka hari gelap―sepi. Untuk momen-momen tertentu gua membutuhkannya, dan 3 hari yang lalu, momen s'perti itulah yang gua tunggu-tunggu.


Saat itu, ya, gua belum mandi. Benar-benar acara yang mendadak. Untungnya masih ada air buat gua mandi. Saat masa kegelapan datang, gua buru-buru ambil pakaian dan langsung tuju kamar mandi―tanpa nyanyi. Udah ga sempet gua untuk berkarier solo s'perti biasa―tepatnya di kamar mandi rekaman. Gua terus berpikir apa hanya kunjungan sementara bagi masa kegelapan―benar-benar sebentar. Apa gua bakal telat? Apa acara mandi ini benar-benar sia-sia? Gua pun melanjutkan mandi ditemani lilin yang gua letakkan hingga posisinya ada di atas kepala gua.


Setelah semuanya selesai, gua buru-buru ambil HP, pakai sandal dan pergi keluar―kesempatan masih ada. Dengan hawa yang semakin memberi kesan dingin di tubuh dan rambut yang masih basah kar'na mandi, gua tersenyum dan HP di tangan kar'na celana yang gua pakai tanpa kantong.


Setelah membuka pagar rumah, hawa bingung menopikan pikiran gua. Ke mana dulu gua manfaatkan kesempatan yang masyhur inimana wilayah yang cocok. Namun―dengan terpaksa dan masih dikelilingi bingung―gua manfaatkan dulu 1 RT. Dengan megahnya gua berjalan. Dengan keadaan yang seperti itu, gua bisa ke mana pun tanpa perlu penglihatan jelas orang lain. Di situ orang-orang bagaikan sketsa yang kemudian dicoret-coret oleh seorang balita―hitam, hanya garis luar yang terlihat. Itu benar-benar dazzling! Gua akui itu. Terlebih, kita tidak tahu satu sama lain, seperti 1 wilayah baru yang diisi oleh orang-orang yang baru juga. Benar-benar kerasa.. malam itu. Satu hal yang penting―juga―adalah lo bisa lihat langit malam originally―tanpa adanya cahaya dari barang-barang elektronik dan bantuan-bantuan non-alam lainnya―hanya bulan.. dan bintang-bintang. Itu adalah waktu alam yang benar-benar alami. Benar-benar... natural.


Sayangnya, kunjungan sang masa sebentar sekali. Tepat ketika gua memutuskan untuk menyudahi perjalanan, mengingat banyaknya gangguan yang buat amarahmeter gua hampir meledak. Saat gua di teras, lampu-lampu pun menyala tanda kepergian masa kegelapan. Semua orang bersorak-sorai, seperti tanda kemenangan. Akhirnya, waktu yang sebentar mengingatkan gua kembali―semuanya benar-benar sebentar. Gua sempat mengambil gambar seekor kucing yang sedang bersantai dengan megahnya di atas atap rumah berwarna biru yang waktu itu sebuah bintang juga sedang eksis. Sayang, itu terjadi saat kunjungan masa kegelapan ke wilayah ini. Tapi tetap bagus. Lebih bagus, maksudku.








dazzling, originally, natural, waktu yang sebentar








Nanda Dega Heraprinov,
yang sempat bangga atas
kejadian jarang di 3 hari yang lalu