Pusa

Dia s'lama ini memerhatikan saya.
Iya. Mata dan kelopaknya selalu bersikeras menangkap memori tentang saya.
Dia tahu saya tengah menghadapi pusaran hasrat.
Dan saya terburu-buru ingin menggapainya.


Mereka masih belum yakin. Beberapa yakin di dalam ketidakyakinan mereka sendiri.
Saya sudah berusaha diam, tapi mereka terus menggoda saya.
Atau saatnya saya pancing karena merasa bosan.
Cara yang salah menuju tujuan yang (dirasa) benar.


Saya semakin lelah karena latihan yang belum juga mencapai kolom akhir.
Padahal sudah melakukannya di luar lingkaran pelindung.
Saya sadar cara yang salah, tapi bodohnya terus mencoba.
Untuk mendapat centang di satu tugas di kategori sosial.
Kar'na sempat menyandang kekalahan di zaman dulu.


Sudah terlalu banyak berfikir.
Makanya jadi pandai mengira.
Mendapat persepsi buruk,
mencari persepsi yang baik.
Untuk bertahan hidup.


Hingga akhirnya hasrat saya dipuaskan secara kreatif.
Di rute yang tidak saya sadari. Juga waktu.
Aku selalu dibela. Walaupun sering memakai 'teori sejak lahir' itu.
Dan soal ini s'lalu terjadi bahkan pada kita semua.


Kenapa selalu mencari, padahal sudah di depan hidung?


Termenung sebentar.
Lalu berdoa agar tidak terlalu masuk,
ke dalam kategori.
 

N. Dega―


waras tak berakses


Belum tiba di kelas, dia sudah ditindas.
Belum ada di kantor, dia sudah dicaci maki.
Hampir semua menganggapnya gampang.
Dan semua memiliki urusannya masing-masing.


Hilang di setiap menit.
Siapa yang mampu membatasi kamu?
Kamu kepenuhan aberasi.
Orang-orang sulit mau dan mampu memahamimu.


Aku tidak sedang membangun puisi.
Hanya penggalan-penggalan kalimat yang ingin keluar.
Kamupun begitu. Ingin keluar namun kamu selalu terjebak di sini.
Alasan keamanan, 50 berbanding 50.


Tatapan dan sikap yang sudah mereka janjikan sebelum menginjak keset rumah.
Sebagai hadiah yang kamupun ga akan paham. Dan mereka tidak begitu peduli.
Karena kerasukan sibuk. Kerasukan keluarga.
Kerasukan waktu. Kerasukan kesehatan.
Semuanya menjadi semakin tidak waras.


Kamu bukan hasil transfer sihir.
Hanya kesalahan yang tercipta disekitar.
Sosok yang dibentuk untuk membentuk.
Penyesalan meronta, kalbu yang tak bisa istirahat.


N. Dega


Jauh-jauh kau malas! Sialan, sampai menumpuk. Layak untuk disebut sebagai gunung.
Jika ini dunia bisnis, hancurlah sampai potongan terakhir.
Rajungan kotor! Ditambah kau yang mencemari benakku. Tenggelamlah ke yang terdalam dari yang terdalam.
Jauhi radius pandangku!

B'rengsek!

racun pergaulan

Aku keracunan rindu.
Di waktuku sendiri.
Bagi kamu, bagi yang terpilih.
Takaran yang tak tersebut.
Cara menggunakan yang tak tercetak.
Tapi ada satu aksi ini.
Seperti penghapus yang bisa bekerja sendiri.
Di malam hari. Ketika para tuan tidak di rumah.
Atau saat mereka sedang tidur.
Keapatisanku yang berhasil dipatahkan.
Aberasi yang terkontaminasi.

Sempat berfikir kondisi masa depan tanpa kalian.
Lalu sekonyong-konyong orang asing memperkenalkan diri
lewat papan tulis yang kudesain sendiri.
Ingin masuk dalam pergaulan.
Ingin masuk dalam pikiran.
Pikiran yang telah lama direstriksi.
Sayang..

Lomba maraton dimulai.
Tapi aku pura-pura tidak memulai.
Bingung.
Lalu jadi gagu dan tidak profesional.
Tidak bisa di-searching
seperti kunci lisensi gratis di situs-situs online.

Maaf sempat telat.
Aku benci telat.
Tapi aku juga benci testimoni palsu.
Aku..
Ughh..



N. Dega―


kerasukan


Melakukan langkah dari rumah dengan sepatu gaya tradisional. Gua biarin diri gua yang lain memperhitungkan langkah demi langkah sebentar. Sebentar yang lain menatap orang-orang yang melakukan tatapan pertama ke gua. Lumayan banyak dapat atensi dari orang-orang yang entah dari mana saja tempat kembang sejak lahirnya. Apa ada pertanyaan dari mereka gimana 'bagian dalamnya'? Gak! Lagipun mereka bukan penerka ulung.

Lalu menatap netizen yang dengan megahnya 'menumpahkan kuah lengket' di kolom komentar. Kuah yang menurut mereka wangi kondisinya. Berkualitas tinggi. Kar'na malasnya mengeksplorasi lebih dalam, gua langsung kasih tanda 'bahaya' di pinggir laut. Atau tatkala leaving group di media sosial. Ada saja keberhasilan diri yang lain saat berbisik tentang ini dan tentang itu. Sayang, mereka tidak menerima piagam atau semacamnya.

Ada lagi ketika kereta berhenti di stasiun s'lanjutnya. Apalagi kalau nampak banyak calon penumpang lewat kaca kereta. Akan atau sudah berakting tidur agar tempat duduk tidak diinvasi pendatang baru. Lelah, malas. Pernah dengar testimoni dari salah satu penumpang. Lagi enak duduk di samping temannya, tiba-tiba tempat duduknya diinvasi wanita yang ketebalan tubuhnya melebihi tebal tembok pembatas wilayah. Egoisme dan gila hormat selalu b'rani merasuki atma orang-orang. Juga ketakutan kar'na jenis kelamin dan gerbong yang 'didominasi'. Masih saja memerhatikan hal-hal seperti itu. Gampang s'kali manusia kena rasuk.

Apalagi ketika seseorang mendaki gunung hingga berada di puncaknya. Bau yang ia cium merasuki hati dan pikirannya. Mulai membentuk ruang hingga dunia dengan megahnya. Tujuan semula dibelok ke arah dia berpijak kini. Yang lainnya penerus. Entah penerus budaya atau bangsa.

Lalu saat dengar lagu-lagu favorit. Kepala, bahu, tangan, sampai bokong mengikuti semua arah mata angin. Saking kuatnya daya rasuk musik itu, hingga membuat kita menciptakan akal atau pikiran-pikiran yang di luar kemampuan.

Masing-masing kena rasuk. Di ruang besar ini punya banyak pilihan yang kadang hadir di luar logika dan ga menghasilkan apa-apa ke depannya bagi otak orang lain. Banyak yang ikut campur tapi ga merubah ke hal-hal yang benar. Karena benar hanya menurut versi otaknya. Otak yang tumbuh-kembangnya didominasi entah di lingkungan mana. Nasihat juga hampir punah tujuan aslinya.

Manusia memang makhluk yang unik. Juga hebat.
Bisa kena rasuk, bisa juga merasuki.


Nanda Dega