makanan... oh minuman

Post-an kali ini tentang makanan.
Iya.. makanan!!
Dan gue bakalan sisipin minuman sebagai pelengkapnya.

Ide kali ini sebenarnya bukan ide gue.
Bukan gue yang menciptakan ide ini untuk buku umum gue ini.

G: Kak, kasih tantangan dong!
K: mmhh.. tentang makanan aja. Kakak lebih suka makanan.
G: *ragu memendam rasa*

Dan pada akhirnya gue gunakan ide itu.
Tapi, gue ga akan nge-posting bahan-bahan dan alat yang akan digunakan,
atau merk-merk kue yang gue suka,
atau berapa besar listrik yang dipake,
atau berapa banyak tisu yang kebuang.

Just posting some cutest photos

Rata-rata, foto-foto yang gue dapet dari sini dan sini.
Semoga kalian ngiler dan bertekad untuk membuatnya.


Selamat Menikmati Hidangan.























Nanda Dega

Dear Candle & Flame

     Ajaib! Dengan bentuk dan warnamu yang beragam serta sumbu yang terpasang di dalam, akanku bermain dengan kalian.

     Kalian membantu menerangi disaat lampu mati, saat malam, dan saat gelap menyerang. Tidak berbeda kalian dengan senter atau hal lainnya. Dengan kalian, bisa kuciptakan berbagai bayangan. Berkreasi dengan cahaya seadanya.

     Aku jadi ingat akan masa-masa yang pernah kulalui bersama kalian, wahai penyinar kecil.

     Entah kapan itu akan terulang kembali.


Nanda Dega

Rusak

Apa yang terjadi selanjutnya?

Aku pikir kalian sudah tahu apa yang akan terjadi setelahnya -duduk di tengah taman dengan kemegahan-, atau masih belum tahu bahkan belum memikirkan apa yang terjadi selanjutnya. Jika kalian diculik oleh seseorang saat kalian sedang menikmati alam dengan megahnya, kalian pasti akan ketakutan dan berpikir apa yang akan terjadi pada kalian selanjutnya atau mungkin pada orang-orang terdekat kalian. Tapi tidak untuk orang ini. Aku tidak akan menceritakan hal tersebut karena di saat itu ia sedang pergi menuju restoran termahal di kota itu. Waktu itu malam hari dan di hari yang sama, masih sama di saat ia mengeluarkan senyumnya dan menyebarkannya dengan sembarang. Berjalan melewati sinar remang-remang yang di taburkan oleh lampu jalan itu, tak sama sekali membuat dia ketakutan biarpun di tengah gang kecil nan sepi.

Letaknya cukup jauh dari taman yang ia megahi. Tidak sama dengan "Lapang Hijau", jalan yang ia lalui sangat jelek, bahkan lebih jelek dari seseorang yang tidak membersihkan tubuhnya dengan air, dengan sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi dan pembersih rambut. Aku harap aku punya kekuatan atau sihir atau sejenisnya agar jalan itu bisa layak untuk dipakai. Beruntungnya hari itu tidak hujan, kar'na pasti akan merepotkannya dan akan panjang bagiku untuk mendeskripsikan jalanan itu. Mungkin penduduk di sana bisa beralih ke roller coaster atau moving walk.

Di depan pintu berkaca sambil mengusap-usap kedua telapak tangannya dan meniup-niup untuk menghangatkannya. Aku rasa tidak akan berguna, karena restoran itu menggunakan ac. Tidak disangka akan bertemu lagi dengannya. Umumnya jika kalian bertemu dengan hawa dingin pasti yang ada di benak kalian adalah bagaimana cara menghangatkan tubuh kalian atau kapan hawa dingin itu berakhir. Tidak dengannya, ia malah melawannya dengan senyum.

Mendaratlah ia pada pojok restoran masih dengan senyuman manisnya. Sumpit dikeluarkan dari bungkusnya dan santaplah ia -aku hilangkan bagian pemesanan dan makanan yang ia pesan-. Begitu lahapnya ia menyantap makanan-makanan yang ada dihadapannya itu. Saat habis semuanya itu, ia mengelap mulutnya dengan serbet yang telah ia bawa sedari rumah. Aku tertawa kecil melihatnya, "mengapa ia menggunakan miliknya sementara pihak restoran sudah menyediakan serbet di meja makan?"

Waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, sudah waktunya bagi dia untuk istirahat. Tidak tahu lagi apa yang harus dilakukannya di waktu itu sebelum ia mencapai kamarnya nanti. Dia berjalan keluar restoran dan menemukan hal-hal yang tidak ia ketahui. Dihadapannya terdapat beberapa hal yang menarik hatinya. Aku memerhatikannya dan melihat ia mulai meraih semua itu dan menyentuhnya, membelainya layaknya orang yang dikasihinya. Dia sedang mengapresiasikannya.

Tidak dapat menahan waktu, ia pun meninggalkannya untuk menuju kasur tercintanya. Senyuman mulai dipasangnya. Dia bisa mendapat penghargaan kar'na senyumannya itu. Menggunakan jalan yang sebelumnya tanpa memedulikan sekitarnya.


Nanda Dega

I think I need your help now

"Halo, Penyelidik Dua, dimana posisimu?"
"Penyelidik Dua disini, aku ada di blok 49."
"Bagaimana denganmu Tiga, dimana posisimu?"
"Aku ada di blok 30."
"Oke, kita mulai."


Yang di atas bikinan sendiri, tapi kurang lebih seperti itulah mereka bekerja.
Beroperasi dalam berbagai misteri.
Mereka "pahlawan mungil" buat gue.
Karena di usia mereka yang masih terbilang belia,
mereka sudah bisa memecahkan beberapa kasus yang ada di tempat tinggal mereka di Rocky Beach, California, gak jauh dari Hollywood.


Siapa mereka?
dumdumdum *drum bergetar*


Mereka Trio Detektif.
Seperti namanya, mereka beranggotakan 3 orang,
terdiri dari Penyelidik Satu, Penyelidik Dua, dan yang terakhir Penyelidik Tiga.
Masing-masing mereka memiliki nama: Jupiter Jones, Pete Crenshaw, dan Bob Andrews.
Gue bakalan sedikit menggambarkan masing-masing dari mereka;

  1. Jupiter Jones : Penyelidik Satu yang satu ini adalah pemimpin dari Trio Detektif. Dia sering dipanggil Jupe. Dia punya daya ingat yang luar biasa, dan itu adalah hal yang paling mengagumkan dari dirinya -kecerdasan otaknya-. Tangannya cekatan. Dia agak kesal dengan kawan-kawannya yang sering menyebutnya Gendut, kadangkala Baby Fatso juga keluar dari mulut kawan-kawannya itu. Ga cuman kawan-kawannya yang menyebut Jupe gendut, beberapa orang pun ada yang menyebutnya gendut. Emang ga salah kar'na memang dia yang memiliki fisik seorang gendut.
  2. Pete Crenshaw : Penyelidik Dua dengan panggilannya, Pete, memiliki tubuh tinggi, atletis, dan sangat senang berolahraga. Tapi kadangkala, si pemilik tubuh atletis ini gemetaran jika dihadapkan pada peristiwa yang menantang bahaya.
  3. Dan Bob Andrews : Sering dipanggil Bob, berbadan kecil diantara Pete dan Jupe. Ia menangani urusan data dan riset. Seseorang yang teliti dan rapi sekali dalam menyusun catatan setiap kasus yang dialami Trio Detektif.
 
sekian cuplikan dari penulis muda kita... *Aminnn...*


Begitulah sedikit tentang mereka, wujud mereka, fisik mereka.
Tapi sayangnya mereka cuman tokoh-tokoh fiksi yang dikarang sama Bapak Robert Arthur Jr.
Untuk Bapak William Arden, M. V. Carey, Nick West, dan Mark Brandel, mereka yang ngebantu melanjutkan/memperluas cerita Trio Detektif.

ya, seandainya mereka adek-adek gue.
seandainya mereka kakak-kakak gue.
seandainya mereka tetangga gue.
seandainya mereka saudara gue.
seandainya mereka gua punya. #lohh
seandainya gue salah satu anggota mereka..... *diam sejenak*
Kalau gue jadi salah satu anggota mereka,
mungkin kerjaan gue hanya tertawa.
Kalau gue jadi salah satu anggota mereka,
mungkin kerjaan gue cuman keliling-keliling.
Kalau gue jadi salah satu anggota mereka,
mungkin piring ga bakal gue cuci.
Kalau gue jadi salah satu anggota mereka,
mungkin gue ga akan sapu markas.
Kalau gue jadi salah satu anggota mereka,
mungkin gue ga akan bikin video muter-muter di atas gunung. *I feel free...*
Kalau gue jadi salah satu anggota mereka,
mungkin gue cuman ngenyangin mata doang.

Bisakah kau menjadi berguna, Dega?!
*marah sama diri sendiri*  arrghh..


Pasti bakalan jadi hari-hari yang melelahkan dengan ngurusin berbagai misteri-misteri aneh yang muncul.
Dan gue kagum pada mereka,
yang bisa pecahkan misteri-misteri yang datang berkunjung ke mereka.

Tapi sayangnya bertemu dengan mereka ga segampang gue balikin piring ke rak piring.
Mereka begitu zadul, sehingga perlu pengorbanan yang besar bagi gue buat ketemu mereka.
Udah ada beberapa judul yang sampai di tangan gue,
tapi tetep masih kurang karna kisah-kisah mereka yang bikin gue haus akan misteri.
Ga hanya buku-buku, film-film mereka pun makin buat gue haus akan mereka.
Mungkin suatu saat kamar gue bakalan dipenuhin buku-buku ciptaan bapak-bapak diatas,
atau suara-suara yang timbul dari film-film mereka yang gue tonton.




buku-buku berunsur Trio Detektif yang udah gue baca
*Dikit banget!*


Semoga gue bisa tonton dan baca semua koleksi Trio Detektif. *Aminin dong*
Kalau aja mereka ada di sini sambil bekerja dan gue sebagai pengamat mereka,
mengenyangkan mata dengan aktivitas-aktivitas mereka yang bisa buat gue ternganga lebar.
Mungkin juga bikin gue tidur. Atau buat gue grasak-grusuk kar'na rasa keingintahuan gue.



"Kalau kau menemukan sesuatu, kau bisa menghubungi kami."
-Pete mengeluarkan sebuah kartu yang tak lain kartu Trio Detektif-
???
"Hei, aku pikir aku butuh bantuan kalian sekarang. Sesuatu telah terjadi."
"Baiklah, kau tunggu saja."
 "Pete, Bob, saatnya."


Nanda Dega

Dipecah

Waktu terus berlanjut dan kian mendekati hari gelap. Hari itu masih hari Sabtu dan waktu itu adalah sore. Aku bisa saja menyebutkan apa saja yang telah ia dapatkan setelah kejadian tersebut -pertanyaan dari orang asing- dan menjabarkannya, tapi akan lebih baik jika kalian menyimak hal yang terpenting saja. Aku membutuhkan inspirasi untuk melanjutkan tulisanku, tapi belum ada sesuatu yang dapat kujadikan bahan setelah kejadian "pertanyaan dari orang asing" dan kejadian-kejadian lainnya. Aku bisa saja memasukkan semuanya itu, tapi sayangnya tidak sesuai dengan judul yang telah kutetapkan.

Dia telah berjalan mengelilingi taman indah itu. Dulunya taman itu bernama "Taman Megah", hanya saja sempat berubah nama menjadi "Lapang Hijau". Aku juga mengetahuinya karena aku pun pernah ke sana bersama teman-teman satu klub. Aku fikir dia berfikir kalau tempat itu adalah miliknya, karena aku lihat dia seperti penguasa disaat itu. Untuk hari-hari yang lalu aku tidak tahu. Dia begitu megah hingga orang-orang menatap heran kepadanya.

Aku duduk di tempat duduk yang telah disediakan di sana. Dengan santainya sambil menikmati hamburger dan minuman bersoda yang kubeli beberapa waktu lalu di salah satu toko terkenal di kota itu. Berbondong-bondong mereka membawa bendera dengan gambar yang tidak kuketahui -sejak kemarin aku melihatnya- dengan wajah mereka yang digambar persis dengan bendera kesayangan mereka itu. Kerusuhan terjadi tiba-tiba dan dengan penanganan yang cepat dan tepat kerusuhan itu dapat terselesaikan. Dia menatap mereka dengan tatapan kosong. Ketidakpedulian memancar dari pandangannya itu.

Bekal kecilku akhirnya habis dan sampah kulihat berserakan dimana-mana -ketidakpedulian terhadap lingkungan di saat itu cukup besar-. Dia mendarat tepat di tengah taman dengan gaya megahnya. Tersenyum kepada angkasa dan tatapan penuh senang yang ia sebarkan kepada orang-orang di sekitarnya. Aku merasakan betapa pecahnya disaat itu. Sungguh makhluk yang bisa kusebut cheerful.

Apa yang akan dilakukannya selanjutnya, aku tidak tahu. Sore itu benar-benar dipecah olehnya. Aku duduk tepat disampingnya dan ia tidak menyadarinya.


Nanda Dega