I think I need your help now

"Halo, Penyelidik Dua, dimana posisimu?"
"Penyelidik Dua disini, aku ada di blok 49."
"Bagaimana denganmu Tiga, dimana posisimu?"
"Aku ada di blok 30."
"Oke, kita mulai."


Yang di atas bikinan sendiri, tapi kurang lebih seperti itulah mereka bekerja.
Beroperasi dalam berbagai misteri.
Mereka "pahlawan mungil" buat gue.
Karena di usia mereka yang masih terbilang belia,
mereka sudah bisa memecahkan beberapa kasus yang ada di tempat tinggal mereka di Rocky Beach, California, gak jauh dari Hollywood.


Siapa mereka?
dumdumdum *drum bergetar*


Mereka Trio Detektif.
Seperti namanya, mereka beranggotakan 3 orang,
terdiri dari Penyelidik Satu, Penyelidik Dua, dan yang terakhir Penyelidik Tiga.
Masing-masing mereka memiliki nama: Jupiter Jones, Pete Crenshaw, dan Bob Andrews.
Gue bakalan sedikit menggambarkan masing-masing dari mereka;

  1. Jupiter Jones : Penyelidik Satu yang satu ini adalah pemimpin dari Trio Detektif. Dia sering dipanggil Jupe. Dia punya daya ingat yang luar biasa, dan itu adalah hal yang paling mengagumkan dari dirinya -kecerdasan otaknya-. Tangannya cekatan. Dia agak kesal dengan kawan-kawannya yang sering menyebutnya Gendut, kadangkala Baby Fatso juga keluar dari mulut kawan-kawannya itu. Ga cuman kawan-kawannya yang menyebut Jupe gendut, beberapa orang pun ada yang menyebutnya gendut. Emang ga salah kar'na memang dia yang memiliki fisik seorang gendut.
  2. Pete Crenshaw : Penyelidik Dua dengan panggilannya, Pete, memiliki tubuh tinggi, atletis, dan sangat senang berolahraga. Tapi kadangkala, si pemilik tubuh atletis ini gemetaran jika dihadapkan pada peristiwa yang menantang bahaya.
  3. Dan Bob Andrews : Sering dipanggil Bob, berbadan kecil diantara Pete dan Jupe. Ia menangani urusan data dan riset. Seseorang yang teliti dan rapi sekali dalam menyusun catatan setiap kasus yang dialami Trio Detektif.
 
sekian cuplikan dari penulis muda kita... *Aminnn...*


Begitulah sedikit tentang mereka, wujud mereka, fisik mereka.
Tapi sayangnya mereka cuman tokoh-tokoh fiksi yang dikarang sama Bapak Robert Arthur Jr.
Untuk Bapak William Arden, M. V. Carey, Nick West, dan Mark Brandel, mereka yang ngebantu melanjutkan/memperluas cerita Trio Detektif.

ya, seandainya mereka adek-adek gue.
seandainya mereka kakak-kakak gue.
seandainya mereka tetangga gue.
seandainya mereka saudara gue.
seandainya mereka gua punya. #lohh
seandainya gue salah satu anggota mereka..... *diam sejenak*
Kalau gue jadi salah satu anggota mereka,
mungkin kerjaan gue hanya tertawa.
Kalau gue jadi salah satu anggota mereka,
mungkin kerjaan gue cuman keliling-keliling.
Kalau gue jadi salah satu anggota mereka,
mungkin piring ga bakal gue cuci.
Kalau gue jadi salah satu anggota mereka,
mungkin gue ga akan sapu markas.
Kalau gue jadi salah satu anggota mereka,
mungkin gue ga akan bikin video muter-muter di atas gunung. *I feel free...*
Kalau gue jadi salah satu anggota mereka,
mungkin gue cuman ngenyangin mata doang.

Bisakah kau menjadi berguna, Dega?!
*marah sama diri sendiri*  arrghh..


Pasti bakalan jadi hari-hari yang melelahkan dengan ngurusin berbagai misteri-misteri aneh yang muncul.
Dan gue kagum pada mereka,
yang bisa pecahkan misteri-misteri yang datang berkunjung ke mereka.

Tapi sayangnya bertemu dengan mereka ga segampang gue balikin piring ke rak piring.
Mereka begitu zadul, sehingga perlu pengorbanan yang besar bagi gue buat ketemu mereka.
Udah ada beberapa judul yang sampai di tangan gue,
tapi tetep masih kurang karna kisah-kisah mereka yang bikin gue haus akan misteri.
Ga hanya buku-buku, film-film mereka pun makin buat gue haus akan mereka.
Mungkin suatu saat kamar gue bakalan dipenuhin buku-buku ciptaan bapak-bapak diatas,
atau suara-suara yang timbul dari film-film mereka yang gue tonton.




buku-buku berunsur Trio Detektif yang udah gue baca
*Dikit banget!*


Semoga gue bisa tonton dan baca semua koleksi Trio Detektif. *Aminin dong*
Kalau aja mereka ada di sini sambil bekerja dan gue sebagai pengamat mereka,
mengenyangkan mata dengan aktivitas-aktivitas mereka yang bisa buat gue ternganga lebar.
Mungkin juga bikin gue tidur. Atau buat gue grasak-grusuk kar'na rasa keingintahuan gue.



"Kalau kau menemukan sesuatu, kau bisa menghubungi kami."
-Pete mengeluarkan sebuah kartu yang tak lain kartu Trio Detektif-
???
"Hei, aku pikir aku butuh bantuan kalian sekarang. Sesuatu telah terjadi."
"Baiklah, kau tunggu saja."
 "Pete, Bob, saatnya."


Nanda Dega

Dipecah

Waktu terus berlanjut dan kian mendekati hari gelap. Hari itu masih hari Sabtu dan waktu itu adalah sore. Aku bisa saja menyebutkan apa saja yang telah ia dapatkan setelah kejadian tersebut -pertanyaan dari orang asing- dan menjabarkannya, tapi akan lebih baik jika kalian menyimak hal yang terpenting saja. Aku membutuhkan inspirasi untuk melanjutkan tulisanku, tapi belum ada sesuatu yang dapat kujadikan bahan setelah kejadian "pertanyaan dari orang asing" dan kejadian-kejadian lainnya. Aku bisa saja memasukkan semuanya itu, tapi sayangnya tidak sesuai dengan judul yang telah kutetapkan.

Dia telah berjalan mengelilingi taman indah itu. Dulunya taman itu bernama "Taman Megah", hanya saja sempat berubah nama menjadi "Lapang Hijau". Aku juga mengetahuinya karena aku pun pernah ke sana bersama teman-teman satu klub. Aku fikir dia berfikir kalau tempat itu adalah miliknya, karena aku lihat dia seperti penguasa disaat itu. Untuk hari-hari yang lalu aku tidak tahu. Dia begitu megah hingga orang-orang menatap heran kepadanya.

Aku duduk di tempat duduk yang telah disediakan di sana. Dengan santainya sambil menikmati hamburger dan minuman bersoda yang kubeli beberapa waktu lalu di salah satu toko terkenal di kota itu. Berbondong-bondong mereka membawa bendera dengan gambar yang tidak kuketahui -sejak kemarin aku melihatnya- dengan wajah mereka yang digambar persis dengan bendera kesayangan mereka itu. Kerusuhan terjadi tiba-tiba dan dengan penanganan yang cepat dan tepat kerusuhan itu dapat terselesaikan. Dia menatap mereka dengan tatapan kosong. Ketidakpedulian memancar dari pandangannya itu.

Bekal kecilku akhirnya habis dan sampah kulihat berserakan dimana-mana -ketidakpedulian terhadap lingkungan di saat itu cukup besar-. Dia mendarat tepat di tengah taman dengan gaya megahnya. Tersenyum kepada angkasa dan tatapan penuh senang yang ia sebarkan kepada orang-orang di sekitarnya. Aku merasakan betapa pecahnya disaat itu. Sungguh makhluk yang bisa kusebut cheerful.

Apa yang akan dilakukannya selanjutnya, aku tidak tahu. Sore itu benar-benar dipecah olehnya. Aku duduk tepat disampingnya dan ia tidak menyadarinya.


Nanda Dega

Dear Camera

     Ya, memang tidak selalu kugunakan engkau. Tidak selalu juga kau kumanfaatkan. Tapi aku kagum, juga kepada penciptamu yang kar'nanya telah membuatmu ada.

     Dengan sedikit pengaturan terhadapmu engkau dapat menghasilkan hal yang kuinginkan, biarpun dengan berbagai ukuran yang ada.

     T'rima kasih. Akhirnya, aku dapat menyimpan memori ini sehingga aku tidak mengatakan bahwa aku belum ada untuk mereka.


Untukmu yang tersayang,
Kamera.

Menggila

Dia mulai bergerak.

Bukan aksi yang kuinginkan. Dia hanya merapikan rambutnya, pakaiannya, dan penampilannya. Memang wajar, tapi sangat tidak berguna bagiku. Untuk apa kau merapikan penampilanmu kalau kau belum membersihkan tubuhmu dengan air, dengan sabun mandi, sikat gigi, pasta gigi, pembersih rambut, atau hal lainnya agar kau terlihat bersih, beraroma, dan dapat dipercaya. Benar-benar makhluk yang luar biasa pastinya. Begitu banyak komentar tentangnya sehingga menumpuk layaknya tumpukan pasir. Aku tidak akan menuliskan semuanya, akan kupotong bagian itu.

Hari itu hari Sabtu dan merupakan hari yang istimewa baginya. Dia begitu senang sedari ia menutup pintu rumahnya, terlihat dari senyumannya yang lebar yang ia bawa selama perjalanannya. Aku tidak mengerti, mengapa seseorang bisa tersenyum selama itu. Kuangkat kedua bahuku ke atas -sebagai tanda bahwa disaat itu sedang bingung- dan kulanjutkan. Tak lama setelah ia berputar-putar dengan girangnya, seseorang datang mengunjunginya di pinggir jalan raya dan bertanya, "Apakah kau tahu selai yang terkenal di Swiss?"

Aku yakin pasti ia tidak akan mengetahui hal tersebut. Baginya pertanyaan tersebut tidak lebih dari kekonyolan. "Mengapa hanya datang untuk menanyakan satu hal saja kepadanya dan mengapa hanya dia?" Aku sedikit heran dengan orang ini, mengapa ia harus memilihnya sementara ia sendiri dikelilingi oleh orang-orang yang aku yakin dapat menjawab pertanyaan tersebut.



Nanda Dega

Jalan

Langkah demi langkah kuambil. Terus-menerus kulakukan tanpa arah ataupun kompas. Biarpun jalan berkelok, kendaraan berlalu lalang disampingku, ilalang yang tingginya melebihiku menari-nari lembut, berbagai peralatan porak poranda, bebatuan dengan berbagai bentuk dan ukuran berserakan, hembusan angin melalui, kertas koran berhamburan dan terbang kemana-mana, jendela dari rumah seseorang terbuka lebar atau setengah terbuka, tanah berhamburan di kiri dan di kanan, ataupun melihat orang-orang sedang merayakan pesta. Aku yakin biarpun jalan yang kuambil jarang atau sering dilalui.

Kemudian kutemukan jalan yang membuatku merinding. Entah kenapa jalan ini seperti memiliki aura yang dapat membuat bulu kudukku berdiri. Kelam, suram, awan hitam, petir, atau bobrok semua ada di jalan ini. Semua ini membuatku lelah, sehingga aku teringat hal buruk itu. Bersyukurnya aku kar'na tak berakal untuk masuk kesana. Akan lebih baik kalau aku masuk ke dalam gua yang gelap dan menyedihkan. Mungkin. Mungkin lebih baik dan yang terbaik kalau aku ada di dalam kamarku saja sambil membaca buku favoritku daripada harus menyatu dengan mereka.

Seperti apa rasanya berada di jalan yang sering dilalui, jarang dilalui, atau berada di jalan yang tidak pernah dilalui pasti kalian sudah tahu. Mencemooh, mengumpati, dan mengeluh pun tidak akan pernah menyelesaikan masalah. Kau hanya membuang masamu. Terkadang hal gila bermunculan di jalan seperti anarki, seseorang yang menari-nari, atau hal gila lainnya. Terkadang mereka merekamnya dan menjadikannya bahan lelucon atau sebagai kenang-kenangan.

Banyak hal tak terduga bahkan di jalan. Semua jalan pasti memiliki ceritanya sendiri, begitu pun kalian yang membaca halaman ini. Aku tidak akan memaksa kar'na suatu jalan pasti telah membuat kalian tertarik, tersenyum, atau gembira. Mungkin akan ada banyak hal yang membuat pendirian kalian roboh kar'na kalian memilih jalan itu. Atau hal-hal yang membuat kalian berdiri kokoh di jalan yang kalian pilih. Sekali lagi aku tidak akan memaksa ataupun mengancam kalian. Kar'na aku yakin kalian pasti cukup dewasa dalam hal milih memilih.

Seperti 2 jalan atau lebih yang terpisah oleh genangan air nan luas, pasti kalian akan berfikir bagaimana cara mengatasi hal tersebut. Mungkin kalian akan menciptakan yang namanya jembatan. Dan bisa saja kalian menciptakan jembatan dengan bahan yang berbeda. Dan mungkin tidak harus jembatan, kar'na semakin bertambah masa pasti teknologi akan semakin berkembang. Mungkin saja 50 atau 100 tahun kemudian bukan jembatan lagi yang akan digunakan, bisa saja moving walk dan lainnya. Hanya menerka tapi bisa saja itu terkabul.

Kalau saja kita dapat berfikir secara matang akan jalan yang kita kehendaki masing-masing dan pada jalan tersebut pasti akan ada suatu rintangan yang tiba, namun hal itulah yang dapat membuat kita menjadi semakin kuat, berani, atau teladan bagi orang-orang disekeliling kita.

Bagaimana pun, inilah hidup.


Nanda Dega