Intrik

HEY!
Mengapa....?
MENGAPA kau RAJUT MASALAH ?
Tolong LEBIH BIJAK!


HEY!
Mengapa....?
MENGAPA aku DIAM SAJA DAN TIDAK MELAKUKAN APA-APA?
LEBIHLAH GIAT DAN BERUSAHA!


HEY!
Mengapa....?
APA YANG KALIAN LIHAT?
Kalian pikir aku BONEKA BERUANG?
TATAPAN yang kalian berikan, TATAPAN MACAM APA ITU?
Aku TIDAK SUKA!


Kau TIDAK SUKA jika itu terjadi, maka UBAHLAH!


Kau BENCI mereka yang menertawakanmu, maka TUNJUKKAN!
Biar mereka yang akan makan AMPAS-AMPAS USAHAMU!
Mereka AKAN KENYANG nantinya.
JANGAN TAKUT!


Sudahkah kau dekatkan dirimu pada Yang Esa?


Baikkah dirimu?


HEY!
Mengapa....?
MENGAPA kau RAJUT MASALAH ?
Tolong LEBIH BIJAK!
BERCERMINLAH!
Coba RASAKAN BERADA DI POSISIKU!
JANGAN HANYA BERLAKU!


Kau TIDAK SUKA jika itu terjadi, maka UBAHLAH!
BUAT mereka MENUTUP MULUT mereka!
JANGAN TAKUT!


Kebohongan APA LAGI yang harus KUTANGGUNG?


Virus APA LAGI yang harus KUHADAPI?


Melalui mulutmu,
Kau telah MELAKUKAN KESALAHAN BESAR.


TANGGUNGLAH, sama seperti aku MENANGGUNGNYA.

Suatu saat...
Di masa nanti.
Bersama kata-kata dan HOBI BUSUKMU!



Salam,



Nanda Dega


—telah rusak





pernikahan yang sia-sia

mereka tinggalkan semua.

bahkan rajutan kasih dan kenangan.


padahal...

telah mereka tinggalkan orang tua mereka

demi pernikahan itu

pernikahan yang sia-sia


mereka buang jauh..

hingga yang lain tahu.


Burung-burung gagak mengitarinya

setelah itu mendarat.


mereka telan habis.


tidak ada yang tersisa.

hanya darah..


pernikahan mereka hanya bersisa darah..


pernikahan yang sia-sia



Nanda Dega


ketika kau tahu bahwa gelas yang pecah tidak bisa disatukan lagi

Tiba-tiba seseorang datang kepadaku. Benakku.
Ketika aku sedang berjalan-jalan sendiri dalam ruang biasaku.
Ia merajut sebuah topi lagi padaku.
Seperti yang sebelum-sebelumnya, buat saya keluarkan air mata.
Lagi.


Kali ini, entah kenapa dengan dia.
Wanita yang sedang populer saat ini
dalam sebuah acara televisi.
Hinggap dalam benak sebagai orang yang saya kenal.
Entah apa tujuan ia merajut topi ini untukku.


Hanya aku dan ia saja.
Berawal pada sebuah salon.
Aku datang menghampirinya yang sedang berada di ujung kiri ruang
dekat bangku pelanggan.
Aku berbicara mengenai salonnya, memberi ia selamat.
Melihatnya sukses.


Secara misterius, ruang berubah menjadi kelas.
Kelas kampus.
Hanya, pada penglihatanku —ia dan sekitarnya— bukan sedang berada di kelas.
Itu berbeda dengan perasaanku.
Melihat sekitar dengan inderaku.


Ia berbicara seolah kepada orang banyak.
Padahal hanya aku seorang yang ada.
Mungkin ini masih perasaanku.
Melihatnya berbicara, mengingatkanku akan masa-masa yang lalu, bersama dia.
Seperti teman, namun entah mengapa itu.
Saya mulai menangis
dan seketika itu juga tersadar
dalam dunia nyata.


Menyadari air mata saya dan jantung yang berdegup takut.
Takut akan kepecahan, takut akan perpisahan.



Nanda Dega


B






B




A