-warni

Wiiiiiiiiihhngggggg...........

Semua menuju tengah. Masing-masing menuangkannya ke dalam wadah besar dan mengelilinginya. Bermain-main sebelumnya, membuat baju pelindung yang mereka gunakan tergores oleh kumpulan warna.

S'perti yang kukatakan sebelumnya, mereka menuju tengah dan mulai menyatu, satu dengan yang lainnya. Si merah yang aktif dan membara serta si kuning yang cerah dan riang kini berubah menjadi oranye yang percaya diri dan aktif. Sementara itu si kuning serta biru yang tenang dan lemah lembut, kini berubah menjadi hijau yang pasif namun mandiri. Begitu juga si biru serta si merah berubah menjadi ungu yang feminim. Itu terus berlanjut dari satu warna ke warna yang lainnya.

Si oranye serta biru yang kemudian berubah menjadi warna coklat yang hangat dan stabil. Tidak hanya itu, si hijau dan si merah tidak mau kalah dengan oranye dan biru begitu juga si ungu dengan kuning.

Belum puas juga, mereka pun menjemput warna putih dan hitam yang ada disudut ruangan sebelah kanan, masing-masing memegang satu kaleng dan mulai mencongkel penutup dan membukanya. Membawanya ke dalam 'panggung' dan mulai menuang secara bersamaan. Si putih yang polos dan nyaman serta si hitam yang kuat dan elegan kini berubah menjadi warna abu-abu yang serius dan tidak komunikatif.

BELUM puas juga, para amatiran itu mulai menjemput warna sian dan magenta yang ada disudut ruangan sebelah kiri.


Tiap tetes warna dalam wadah besar itu bergerak menuju ragam warna dengan sendirinya, tanpa perlu disuruh. Seperti mereka dipekerjakan oleh ketiga orang itu untuk menciptakan pemandangan indah.






-WARNA-





Nanda Dega

Vie


"Setenggak kopi tidak akan membunuhmu. Ayolah!" sembari menodongkan cangkir 1/2 penuh kopi ke Dize. S'perti biasa, Dize menatap sangsi padanya, pada kopi. Kopi pernah membawa kenangan pahit baginya atau bisa dibilang karena cerobohnya. Sejak Dize duduk di sekolah dasar ia sering menghabiskan uang membeli apa yang ia inginkan. Bahkan ayah dan ibunya mengomeli Dize yang merobek celengan plastik pembeliannya dengan pisau demi memenuhi keinginan lidahnya. Dize tidak pernah pensiun dari perilaku kekanakannya bahkan hingga sekarang. Merusak celengan adalah keahliannya. Seperti bakat, ia latih itu sejak dini.

Dize yang sejak itu membeli permen kopi bak biasanya memenuhi kebutuhan lidah setelah bermain memutar-mutar badannya dengan tangan kanannya sebagai tuas pada tiang listrik berkarat berjarak 10 langkah dari rumahnya seperti sedang memerankan tokoh Bollywood yang dulu kedua kakaknya gemar menonton. Dibandingkan sekarang, celah antartiang tidak bisa membuatnya bebas berputar seperti dulu. Yang bisa dilakukannya cuma dua hal -mendirikan tiang sendiri atau memandangnya sebagai masa lalu yang menyenangkan-. Tidak sia-sia ia berputar layaknya Bollywood, ia mendapatkan tanda di kepalanya. Pusing. Satu-satunya yang ia salahkan adalah permen rasa kopi yang masih diemutnya. Ia memuntahkannya, menunggu pusingnya reda, lalu pergi ke rumah untuk mengistirahatkan kepalanya setelah berlaga Bollywood.

Kata demi kata ditulisnya di notes biru panjang bertumpuk membentuk seperti buku, hanya saja itu dibuka dari bawah ke atas bak kalendar meja umumnya. Dize tidak berhenti mengingat dan merangkai kata-kata di notes biru panjang itu akan apa yang ia alami waktu lalu. Mendapat teman baru yang bisa diajak berbincang dan bermain merupakan kebahagiaan bagi Dize. Tak disangkanya akan menemukannya di tengah-tengah perkumpulan para ibu pada malam hari. Itu seperti perkumpulan untuk mengikat eratkan tali persaudaraan sesama suku. Perkumpulan itu dilakukan di dalam rumah yang pemiliknya merupakan salah satu dari anggota perkumpulan. Tak jarang juga Dize menjelajahi ruang tamu yang merupakan tempat berkumpulnya para anggota saat itu. Teman-teman barunya juga tak kalah aktif kakinya menjelajahi tempat perkumpulan. Mereka lebih menyukai bermain di halaman rumah itu ketimbang lapangan yang jaraknya hanya 8 detik dari situ.

Sepulangnya dari bermain, matanya mengaktifkan sensor makanan setibanya di rumah Dize. Dize pergi menuju kulkas yang ada di sudut ruangan, di sebelah kanan. Didapatinya buah hijau muda yang terpotong-potong di atas piring yang dasarnya -bagian luar piring- berornamen ikan. Dize tanpa mencuci tangan langsung mencabut potongan buah tersebut dari tempatnya. Kini sensor di tangannya yang aktif. Tapi memakan buah tersebut tak menjadikan hari Dize menyenangkan. Kepalanya kembali mendapat tanda pusing. Dize enggan berhenti berjalan menuju kamarnya. Setelahnya ia berjanji takkan memasukkan buah mengerikan itu ke dalam tubuhnya lagi. Ia telah menandai kopi dan hari ini dia menandai buah melon. Padahal, sebelum laga Bollywoodnya ia menyukai kopi. Terkadang ia menambahkan gula lalu mencicipinya sebelum mencampurnya dengan air panas.

Bukan hanya itu, Dize memiliki sebuah telepon genggam yang diproduksi oleh salah satu perusahaan besar. Pemilik sebelumnya salah satunya ialah kakak keduanya. Kakaknya, Hedi, tidak lelah untuk menjadikan telepon genggamnya terlihat seperti baru. Misalnya saja Hedi yang pernah menghiasi casing bagian belakang dengan cat warna ditambah bantuan dari kuas cat. Memang tidak selamanya, telepon genggam itu akhirnya berpindah tangan, hanya saja masih lingkup Dize dan keluarganya. Tidak jarang juga Dize memohon Hedi dan pemilik lainnya untuk meminjamkan telepon genggam tersebut padanya. Biarpun rupa dan fungsinya yang terbatas, telepon genggam itupun dapat menciptakan musik sesuai keinginan kita dengan nada-nada yang tersedia. Dulu Dize suka sekali melakukannya, tapi tidak untuk hari ini dan hari-hari setelahnya. Zaman berubah seiring perputaran jarum jam. Ia bahkan tidak ingat kapan terakhir kali telepon genggam itu dipakainya. Ia sadar namun kesadarannya masih membuatnya menangis. Entah kapan ia bisa merasakan masa kanak-kanaknya yang bebas dan juga naif. Namun pada akhirnya ia sadar. Sadar dari dirinya yang tengah memutar film masa lalunya. Dize masih memandangi cangkir yang 1/2 penuh kopi itu di atas meja. Sambil duduk dan mengatakan pada dirinya, "sadarlah! memang menyakitkan. Inilah kehidupan," desahnya.




Nanda Dega

unlike

Mengisahkan sedikit. Ya, sangat sedikit.
Kembali lagi pada"nya". Itu, masa.
Kembali lagi menghilangkan ego ke lalu.
Kembali lagi si bocah kecil itu merenung.
Takkan sejenak berlangsung.
Pikirannya hanya belabelkan masa lalu.
Nostalgia adalah kegemarannya.
Kesulitan terbesarnya adalah bahwa ia tidak bisa mengendalikan waktu. Bahkan mengembalikan "sesi waktu" yang pernah jadi rutenya.
Tentu ini bukan puisi sekali lagi. Apalagi pantun jenaka.
Cuma ratapan sementara dari bocah kesepian itu.
Biarkan bola matanya menonjolkan akar merahnya lagi sambil meratapi penyesalan-penyesalannya.
Dalam bilik "lalu" sendiri.
Sembari cari dukungan. Bukan mereka tentunya.

Awan memang tidak akan pernah bohong.
Tatap kilap matahari memang kuat.
Sesaat membuatnya termenung dan berencana 'tuk pergi ke situ.
Bertanya-tanya pada-Nya apa boleh.
Bertanya-tanya pada-Nya apa boleh dunia baru.
Kalimat tiap kalimat hanya isi dari kepalanya.
Mendekam di dalam "waktu"nya. Apa boleh buat.
Setiap pasti berubah. Itu juga pernah jadi rencananya.
Tapi kenyataannya dia masih melemahkan dirinya.
Pada pertengahan pun dia tulis dengan sembarang, apa saja yang ingin dia tulis.
Instrumen-instrumen kecil dan suara-suaranya yang kecil pula.
Menutup kemungkinan langkah kecil kaki, merahasiakan apa yang telah terjadi padanya.

Cuma rahasia kecil.. yang orang lain pun takkan butuh untuk membantunya keluar dari tempat itu.

"Diamlah sebentar. Apa, aku dengar suara jangkrik di depan pintu bilikku? Apa, itu anjing? Atau serigala? Atau kucing manis yang tidak pernah absen menungguku di pagar rumahku?"
Cuma pertanyaan konyol. Tenang saja, para pembaca.

Bicara kekonyolan, ia ahlinya. Agar yang ia lakukan untuk membuat dirinya tertawa dan menghilangkan jejak kesedihannya. Biar itu tertutup sekali lagi.
Selama-lamanya saja sekalian.

Cerita kisah kecil si bocah mungil di depan rumahnya yang berumput hijau sambil menyalakan lagu kesukaannya di masa lalu. Menghabiskan waktunya bersama radio zadulnya yang sudah berkarat dan pudar itu sekali lagi.

Beruntungnya Dia mengajarkannya via kehidupan.
Maaf atas ketelatannya dalam hal kesadaran. Aku minta maaf.
Dirinya yang lain menceritakan sisi dari dirinya yang lain.
Bukan... Tentu saja bukan kembar. Hanya sisi diri.
"Tapi.. ssstttt! Tolong rahasiakan ini dari mereka yang tidak akan pernah tau apa-apa mengenainya. Biar para pembacaku saja yang tahu. Jika suatu saat novel yang kuciptakan akan terbit, biarlah hanya yang membelinya yang tahu."

Biarlah ruang lingkup untuk yang satu ini kecil sekali lagi.


Salam suam,



Nanda Dega




Indeed.

ter-

aku pikir kamu yang paling menawan
dan kamu yang paling tampan
aku pikir kamu yang paling rupawan
dan kamu yang paling menawan
bukan pandang-memandang
tiada yang paling dipandang
bukan juga niat mengundang
semakin lama harus
semakin cepat aus
ingat dia paling disayang
kamu paling bayang
ke sana ke mari akhirnya lari
kejar sana kejar sini
baca atas
baca tengah
baca bawah
1 target, 10 target
berhenti sana berhenti sini
lepas satu lepas puluh
paling ringkas, paling singkat
paling sukar, berbelit-belit
main sana tanpa tanya
unjuk sini ajak sana
ubah ini atur jua
terus turun hingga menurun
tendang batu main batu
besar ukuran rasa pilu
cinta sana cinta sini
lagu ini lagu itu
itu paling didengar, yang lain tunggu
dia paling dari yang lain singkir sejenak
menghitung sana menghitung sini
satu repot, ajak lain repot
paham ini, paham itu
perhatikan dan praktikan
berangsur-angsur, lalu-lalang
jalan sendiri, bebas kemudian
berusaha tak paling bingung
asal membuat, tanpa tujuan pasti
bukan pantun, bukan juga puisi


Nanda Dega

(s)nail(s)

Berjalan-jalan sambil memberi makan mata dengan pemandangan sawah adalah hal yang ditunggu-tunggu tentunya, apalagi saat matahari ingin mengakhiri jadwal kerjanya di wilayah kami. Membiarkan ego menerima segala macam komentar dan membiarkan komentar itu datang kembali pada tuan atau pun nyonyanya, hingga ego berakhir di tempat yang hampir semuanya berwarna sama dengan brokoli, mungkin juga kol atau pun kulit alpukat, hanya saja tertutup oranye pukul 6 sore.

Sedikit ketenangan... sambil menguasai sedikit tempat untuk kududuki. Tak perlu teropong untuk mencari posisi yang kuinginkan. Untungnya masih bisa membedakan walaupun kuasa ada pada oranye. Melihat seekor siput yang meninggalkan lendirnya seperti jejak kaki hingga akhirnya menghilang dari pandangan kar'na semak kecil tak jauh dari posisi. Kelihatan bahwa warna coklat yang menguasai cangkang siput itu. Kembali kepada awalnya -mengenyangkan mata-, melanjutkan misi yang sempat tertunda.

Kembali, namun kini sampai 3 ekor siput berbaris rapi laiknya pasukan semut. Dari posisi siput pertamaku, sembari meninggalkan jejak lendirnya, namun melihat akhirnya, mereka mendarat tepat di bawah pohon yang tingginya tak jauh beda dengan kereta api seperti sedang mengamati pemandangan. Bukan hanya angkasa dan wilayah yang oranye, akhirnya para siput kuikutsertakan.

Baca.. baca... dan membaca. Kegilaannya pun dimulai, hanya saja butuh ketenangan ekstra. Berjalan-jalan sambil memikirkan bagaimana selanjutnya hingga pipi mulai membulat. Sedikit makan untuk otaknya dan dirinya setelah berjalan-jalan jauhnya dari rumah sampai mendapati tempat yang tak terduga. Untungnya di sana sangat sepi seperti baru pertama kali dibuka -seperti pelanggan pertama tentunya-.

Mulai serius kar'na dia sudah masuk ke dalamnya. Mengamat-amati dan memahami laiknya sedang berhadapan dengan sebuah pemandangan alam. Komat-kamit adalah tambahannya. Kadang mengetuk-ngetuk meja dengan kuku jari secara bergantian juga sebagai tambahan namun mulai merasakan hal ganjil.

Tatapannya tak berubah -tetap pada buku yang dibaca-. Masih sambil memikirkan bagaimana kelanjutan cerita ditambah komat-kamit dan ketukan jari-jarinya. Saat sudah pada akhir halaman, dia mulai merasa senang atas hiburan yang didapatnya. Keganjilan pada dirinya mulai menghantuinya hingga akhirnya ia sampai pada 2 kuku jarinya yang ia potong hari lalu dan ingat akan kecerobohannya dalam memotong sehingga lebih itu dan menyebabkan pedih bagi dirinya.




Nanda Dega